Sisi lain kolektor leasing

Rabu, 31 Oktober 2012
Tulisan saya kali ini mencoba untuk menelusuri  sisi lain  kolektor leasing mobil. Pertama coba kita memisahkan antara karakter seseorang dengan  profesi seseorang. karena tidak semua kolektor leasing ternyata  segarang dan sok preman seperti image yang selalu melekat pada sosok dengan profesi sebagai tukang tagih ini. Kolektor leasing juga manusia biasa, mereka hanyalah seorang karyawan, seorang buruh yang punya rasa takut kehilangan pekerjaannya, yang berjuang tak kenal lelah dan tak kenal waktu demi untuk kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya, berjuang  agar nafas dan nasibnya bisa terus berjalan ditengah  kondisi yang semakin sulit.

Menjadi kolektor lesing bukanlah suatu pilihan, tapi karena memang tidak ada pilihan lain. Tuntutan hiduplah yang membuatnya untuk tidak bisa menolak pekerjaan yang penuh dengan resiko ini. Mencari kerja sudah sangat susah, sudah sangat beruntung bisa mendapatkan pekerjaan dan mendapat penghasilan tetap tiap bulan.

Kolektor leasing bukanlah Debt collector.  Kalau Debt collector/DC/Profcoll adalah pihak diluar perusahaan yang berarti bukan karyawan perusahaan. Debt collector hanyalah pihak yang dimintai bantuannya oleh leasing untuk menyelamatkan profit perusahaan dengan memperoleh imbalan setelah berhasil melaksanakan tugasnya.  Sedangkan kolektor adalah berstatus sebagai karyawan perusahaan yang mempunyai tugas untuk melakukan teguran, penagihan dan pengambilan angsuran konsumen-konsumen yang telat bayar dan mendapatkan gaji tetap tiap bulan, serta mendapat insentip sebagai penghargaan atas prestasi kerja yang berhasil dilakukan serta mendapat sanksi jika hasil kerja  tidak seperti yang diharapkan perusahaan.

Tiap pagi kolektor leasing direview oleh head collection atas progress dan hasil kerjanya hari kemarin. Jika hasil kerjanya dianggap baik oleh atasan mereka pujian pun diberikan kepadanya, tapi begitu pula sebaliknya jika hasil kerja mereka dinilai kurang memuaskan kata-kata yang kadang tidak mengenakan hati mereka terima. Setelah review selesai para kolektor membuat rencana kunjungan harian (DKHC), yaitu daftar konsumen-konsumen mana saja  yang akan dikunjungi hari itu.  Setelah itu menuju admin collection atau kasir untuk meminta sebendel kuitansi tanda terima sementara. Setelah prosedur kerja dikantor selesai dia pun berangkat ke medan perjuangan. Jarak tempuh yang berpuluh-puluh kilometer bahkan lebih dari 100 Km dia lalui dalam satu hari. Naik gunung turun gunung, panas hujan dan terpaan angin tiap hari menimpa tubuhnya tidak mereka hiraukan bahkan tidak mereka sadari kalau itu semua sedikit demi sedikit menggerogoti kesehatannya. Belum lagi maut yang selalu mengintai menunggu lengahnya konsentrasi diatas laju sepeda motornya. 

Besarkah gaji mereka..? Gaji yang mereka terima tiap bulan tak lebih dari standar UMR, bahkan ada yang jauh dibawah UMR. Insentif sebagai penghargaan atas keberhaslan kerjanya menyelamatkan profit perusahaan dihargai tak lebih dari Rp. 5000 - Rp. 7.500,- per kwitansi konsumen yang berhasil dia tagih, itu pun diambil dari biaya tagih yang dibebankan ke konsumen. Biaya tagih yang berkisar antara Rp. 50.000, s/d Rp. 250.000, disisakan antara Rp. 5000 - Rp.7500 oleh perusahaan untuk menghargai perjuangan kolektor, selebihnya masuk ke profit perusahaan. Padahal untuk berhasil membuat konsumen mau membayar angsuran tidak cukup dilakukan dengan satu kali kunjungan. Kebanyakan konsumen akhirnya mau membayar angsuran setelah dilakukan kunjungan yang berkali-kali yang tentunya juga semakin menambah biaya operasional, waktu, tenaga dan resiko yang ditanggungnya.

Tak selamanya kolektor leasing mendapat insentif dalam jumlah yang besar. Kadang mereka malah tidak mendapatkan insentif. Kalau pun dapat, dalam jumlah yang sangat kecil tidak sebanding dengan pengorbanan yang mereka berikan untuk perusahaan.  Belum lagi mereka terkadang juga mau mengorbankan gaji mereka hanya untuk menutup kekurangan angsuran konsumen demi tuntutan pencapaian target profit perusahaan yang dibebankan kepadanya. Gaji yang tidak seberapa dia terima harus dikeluarkan lagi untuk biaya operasional kerja mereka, Sisanya baru dia gunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Berangkat pagi pulang malam adalah rutinitas tipa hari yang dilakukannya. Berangkat pagi pulang pagi terkadang juga dilakukannya demi melaksanakan tanggung jawabnya terhadap perusahaan. Sementara perusahaan hanya melihat pada hasil, menutup mata dengan proses dan liku-liku kerjanya yang penuh resiko melayangnya nyawa.

Inilah potret lain profesi kolektor leasing..ternyata kolektor leasing tetaplah seorang buruh, yang tidak berdaya melawan EXPLOITASI...






Artikel terkait lainnya :

14 komentar:

Anonim mengatakan...

Rasanya sangat terenyuh sekali membaca artikel di atas , emang bener sih tidak semua kolektor itu jahat ini semua dilakukan karena tuntutan hidup mungkin kalau di suruh milih mending jadi pengusaha aja , pesan buat para pengutang janganlah kalian memanfaatkan keadaan bersikaplah kooporatif & sportif mau ngutang harus juga mau bayar donk ingat karma itu berlaku & kita semua jg bakal mati apa yang kita lakukan pasti ada ganjaranya , kesian donk sama oarng" yang niat nya tulus nyari makan buat keluarga.

Amron Falahudin mengatakan...

@Anonim > Yup..ga semua kolektor itu identitik dengan premanisme..banyak kok kolektor yang dilematis dalam menjalankan tuntutan perusahaan yang ternyata banyak yang bertentangan dengan hati nuraninya..thanks atas kunjungannya..

Anonim mengatakan...

mas, sampean mantan kolektor ya? ato pernah kerja dileasing?

Teguh mengatakan...

Sungguh sangat benar artikelnya mas bro, mank itu adanya kehidupan sang collektor, salah satunya saya.

Suprianto Vhian mengatakan...

terkadang kalau kita sudah jengkel amat konsumen malah kita yang di marahinya,,,,artikel di atas sangat baik utk kawan2 memmotifasi diri menjadi seorang kolektor,,,,tak peduli badan sakit tetap kerja,,,,tapi kalau target sampai uang nya besar juga kawan,,,,hehehehehe,,,,v cepet juga habis uang nya...

Amron Falahudin mengatakan...

Thanks atas kunjungan dan komennya mas bro teguh

Anonim mengatakan...

aweu aweu joss

yan kurniawan mengatakan...

Jos...

Anonim mengatakan...

Kalo kolektor internalnya kasar gmn?perlu dikasihani?pake ngaku2 anak buah salah satu bosa preman pendatang di jakarta ini...itu kan preman yg kerja sbg karyawan jadinya

Anonim mengatakan...

Kolektor saya manja,gajinya umr+insentif 400rb+uang transport dan makan 500rb=allin +-2.5JT hasil minim dan pasrah. Desember 2014

Kalo gini sih masalahnya pada SDM om,kalo target 3,5 juta ditangan dengan hanya 3 angsuran per hari. Setelah kita memanusiakan kolektor, tak semua kolektor bisa menjadi manusia yang berguna bagi perusahaannya.


nugroho MCF

bredmart mengatakan...

Jadi begitu ya cara kerja kolektor di perusahaan leasing

Rurry Wisnugraha mengatakan...

saya punya temen, kerjanya kolektor buat salah satu finance/leasing terbesar di Indonesia. Gaji pokoknya memang UMR, tapi dpt bonus 100% gaji tiap bulan klo targetnya tercapai. KLo ga tercapai, bonusnya tinggal dihitung persentase.

Unknown mengatakan...

Memang benar semua yg diungkapkan di artikel di atas bahkan colector rela memakai uang pribadinya untuk menalangi debitur2 yg tdk kooperatif dan demi keluarga supaya bs tetap terus bekerja,, semangat kerja collector,,

ade kurniawan mengatakan...

Memang benar semua yg diungkapkan di artikel di atas bahkan colector rela memakai uang pribadinya untuk menalangi debitur2 yg tdk kooperatif dan demi keluarga supaya bs tetap terus bekerja,, semangat kerja collector,,

Posting Komentar

Please comment..